bila cahaya mentari
memandikan aura jingga senja,
perlahan
kautarik garis simetris
sama sisi
lalu kauhitung
setengah alas kali tinggi
untuk cinta
untuk luka
juga untuk warna jingga
…
apakah kau selalu memulai sesuatu
dengan goresan, dan mengakhirinya
dengan asa yang memendam tanya…
akankah aku berarti bagimu,
setelah pena nuranimu merangkum
kesucian hasrat cintaku
di jalan yang tengah kau tempuh?
Bandung, 17 Juni 2008.
(Wahyu Barata)
GEOMETRI ROMANTIK II
astaga!
dari pagi ke petang,
sebelum hari menjadi kelam,
di lantai tiga gedung kantor kita
baru kusadari…
berlarut-larut cinta meradang
di antara pasang-surut dinamika kerja,
detik-detik yang berlalu, dan deru kotamu.
kemudian pada sisa waktu,
dari malam ke pagi
sambil melepas lelah kita kunyah lagi
dusta, nista, kenyataan, maupun gambaran
kehidupan dari menu-menu film terlaris, ju-
ga dari berita kecurangan anggota dewan legislatif
dan pemilihan kepala daerah, korupsi, debat partai
politik, krisis lingkungan hidup, banjir, longsor, gem-
pa, lumpur Lapindo, resesi dunia, inflasi, pemutusan
hubungan kerja, agen rahasia negara asing, terorisme
internasional, penggusuran pedagang kaki lima dan pe-
rumahan rakyat, tawuran mahasiswa, pembunuhan be-
rantai, perselingkuhan para artis, pelecehan seksual, HIV
AIDS, kasus narkoba,…
sampai kita kenyang melahap fenomena-fenomena ak-
tual dari roda nasib yang berputar 360 derajat searah
jarum jam di 22/7 x r x r
sampai kita bosan bercinta di tepi zaman, dan tak mampu
lagi mencerna birahi,
masih harus kuterka di mana cinta dan kerja akan bermua-
ra?
Kerobokan, 5 Desember 2008.
(Wahyu Barata)
GEOMETRI ROMANTIK III
sewaktu kutambatkan kenangan di sepanjang sisi kota,
cukup lama kaugantungkan tanya di jendela pikiranku,
“Tidakkah kau ingat, usai kita bersulang renjana, berba-
gi curahan romansa; retakan belas kasih yang kaularutkan
dalam dua kali luas alas kali selimut kaleng Heineken, se-
teguk demi seteguk kita reguk di antara pelik-pelik jiwa
kasmaran, bahkan kita resapkan ke setiap tempat hiburan
malam; sebelum hangat kecupanmu menghanguskan rabu-
ku, di saat kucoba untuk mengerti : cinta yang harus kubeli
darimu itu, apakah suci atau hanya sampah yang kau daur
dalam benakku?”
Kerobokan, 11 Desember 2008.
(Wahyu Barata)
MUTIARA HIKMAH
sejalan pagi tiba menjemput hari berkabung
kaupun datang membawa sisa luka
yang masih menganga
di ingatan
di hati
di lara yang tak bisa membendung tumpahan
air mata
kaubawa juga asa dan harga diri yang telah
lama luluh terbakar angkara
telah lalu menjadi elegi tentang kemanusiaan,
keadilan, dan jiwa-jiwa pencari kedamaian
sejati.
usai kauruwat jejak yang menggugurkan
hayat orang terkasih
letih, perih sangat terasa
betapa duka kian meraja, kian menikami sukma
ketika Ground Zero diselimuti sesaji dan karangan
bunga
lalu kausimak bisik angin pantai merajuk :
“jika kau lebih manusiawi menghargai perbedaan
asali setiap insan, perbedaan itu akan menjadi pe-
nentu arah kebijakan hidup hakiki. jika kau pedu-
li. jika tidak, perbedaan hanya akan membuat ma-
nusia menjadi anjing, bahkan menjadi sampah per-
adaban.”
suara kecil itu menyusup begitu dalam ke
palung hatimu
seraya merakit kehormatan pribadi sang pemaaf,
mengikis dendam yang telah usang – berkarat di
relung-relung nurani
hingga kau tengadah pasrah
berserah diri dan keyakinan
ke keluasan, ke keagungan tak terkira…
selagi kau bertasbih…
semakin lirih doa larut di puncak kesabaran :
bung, semoga di negrimu Tuhan mengampuni
segala dosa.
Legian, 9 November 2008.
(Wahyu Barata)
NELANGSA
sore itu
sisa curah hujan menjemput kemarau
rinainya mencari hari dahaga
seperti ombak merangkul pesisir
seperti degup jantungku yang mencoba
berdenyut di buluh nadimu
semuanya menjadi puisi yang mengkristal
di dinding zaman,
tatkala rentang waktu dan harapan sema-
kin sulit ditakar
semakin sulit diukur dengan logika
bila di setiap jatuh tempo deadline
kau selalu mengumbar tanya…
berapa aplikasi bisa kujual?
berapa account bisa kuhargai?
berapa jiwa bisa kunafkahi?
sementara target dan penghasilan layak
masih terbentang jauh di sebrang gemerlap
khayalku
semuanya masih berupa janji yang harus
kutebus dengan pikiran, tenaga, dan keri-
ngatku
kiranya bisa kutepati?
Bandung, Mei 2008.
(Wahyu Barata)
INTERMEZZO
suatu ketika dalam siaran radio di waktu lalu
seusai alunan St. Elmos Fire
kau menengahi kedamaian tepi malam dan pi-
kiranku dengan permainan kata :
“Hi guys. Would you listen to me and remem-
ber this word game? Piano makes music.Ci-
garette makes you sick. Get it?”
meski sekian lama terlupa
pelan-pelan kucoba juga mengupasnya,
mungkin maksudmu
terapi musik lebih baik daripada mencandu.
Recent Comments